Read about our investors, who’s helped us along the way and who believes in our vision for a world with better corporate software.

[fusion_separator style_type=”none” sep_color=”” border_size=”0″ icon=”” icon_circle=”” icon_circle_color=”” alignment=”center” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” top_margin=”10px” bottom_margin=”10px” /]

[fusion_button link=”https://religion-hr.org/investors/” text_transform=”” title=”” target=”_self” link_attributes=”” alignment=”left” modal=”” color=”default” button_gradient_top_color=”” button_gradient_bottom_color=”” button_gradient_top_color_hover=”” button_gradient_bottom_color_hover=”” accent_color=”” accent_hover_color=”” type=”” bevel_color=”” border_width=”” size=”” stretch=”” shape=”” icon=”” icon_position=”left” icon_divider=”no” animation_type=”” animation_direction=”left” animation_speed=”0.3″ animation_offset=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=””]View Investors[/fusion_button]

Islam, Antara Hukum dan Kasih Sayang

Haidar Bagir

Harvard University, Universitas Indonesia

A. PENDAHULUAN

Baik dalam lingkungan akademik maupun persepsi sehari-hari, Islam selalu muncul sebagai agama yang berorientasi pada hukum eksoteris yang menuntut suatu kepatuhan manusia, bahkan ketakutan, kepada tuhan yang diktatorial, bukannya sebagai suatu agama tradisional yang melayani kebutuhan psikologis dan spiritual manusia berdasarkan sebuah hubungan kasih sayang antara tuhan dan umatnya. Lebih buruk dari itu, Islam telah dipandang sebagai agama peperangan dan penaklukan. Terutama dalam dekade terakhir, ia dilihat sebagai agama teror yang menggunakan cara-cara kekerasan untuk meraih kekuasaan memaksa, baik secara politik atau militer, terhadap masyarakat. Memang, ada kepercayaan umum bahwa Islam adalah agama yang menganggap keberhasilan bukan sama dengan keberhasilan untuk memenangkan hati orang-orang melalui pemupukan cinta dan kasih-sayang antar manusia dan antara manusia dengan tuhannya, melainkan dengan cara menegakkan hukum (syari’ah) melalui langkah-langkah otoriter yang dipercayai hanya bisa didasarkan atas aturan hukum sakral yang monolitik dan tidak perlu dipertanyakan.  Ini tidak hanya menyebabkan timbulnya kesalahpahaman tentang agama ini di antara para ahli dan orang awam, melainkan juga telah membentuk sikap kecurigaan dan kemarahan di antara banyak umat Muslim terhadap kehidupan dan sesama umat manusia. Dengan kata lain, orang Muslim yang memiliki komitmen dan berpandangan seperti ini akan memiliki kecenderungan untuk melihat dunia sebagai tempat yang penuh dengan kejahatan dan tempat orang-orang jahat harus dihukum karena perbuatan jahat mereka serta diberi pelajaran keras untuk berubahnya menjadi lebih baik. Demikianlah Islam tampil dengan wajah penuh amarah dan pembalasan, yang cenderung menyingkirkan mayoritas umat manusia yang dari menjadi bagian mereka. 

Pandangan religius ini dapat ditelusuri pada suatu paradigma tertentu mengenai cara memahami dan melakoni konsep paling mendasar dari setiap agama, yaitu konsep ketuhanan, sifat-ketuhanan dan motif penciptaan ciptaan oleh-Nya, esensi kenabian, tentang “jalan’, dan tentang kehidupan yang baik. Yakni, konsep ketuhanan yang penuh dengan amarah dan pembalasan, tuhan yang menciptakan neraka dan bersukacita saat melemparkan manusia ke dalamnya, juga pemahaman tentang nabi sebagai panglima perang dan penaklukan terhadap orang-orang kafir – yang dipercayai merupakan sebagian besar dari penghuni dunia – penggunaan cara-cara yang sepenuhnya eksoteris (legal-formal) untuk mencapai keselamatan (ukhrawi) yang kosong akan spiritualitas, serta menempatkan prinsip ortodoksi (dogma yang benar) di atas ortopraksi (praktik atau perilaku yang benar, yaitu kepemilikan karakter-karakter mulia dan amal saleh). Apakah ini adalah paradigma Islam yang sejati? Atau, haruskah kita melakukan perubahan paradigma dalam memahami agama ini dan mendorong sebuah pemahaman bahwa Islam adalah agama yang mengutamakan kasih sayang, perdamaian, pengampunan, dan sifat-sifat akhlak yang mulia di atas segalanya? 

B. Agama yang penuh Belaskasih

Almarhum Prof. Annemerie Schimmel dalam salah satu kuliahnya di Universitas Harvard pada tahun 2002 mengatakan: “Islam biasanya diperlakukan agak buruk atau hanya sekilas karena sebagian besar sejarawan agama dan kebanyakan orang pada umumnya berpikir bahwa ia adalah suatu agama yang primitif dan kurang menari. Tetapi, saya pikir, jika Anda mendekatinya dari sudut yang berbeda, bisa dihasilkan kesimpulan penelitian yang sangat menarik. Dan hal itulah yang menempatkan saya di jalur (penelitian) ini sejak bertahun-tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengajar di Ankara, di Fakultas Teologi Islam. Saya merasa sangat kesulitan untuk menjelaskan kepada mahasiswa saya mengenai teori Rudolph Otto tentang Numinous sebagai Mysterium Tremendum dan Mysterium Fascinans, ketika salah satu mahasiswa saya berdiri dan berkata, “Tapi teori ini sangat sederhana, kami telah memilikinya di dalam Islam selama berabad-abad. Kami selalu berbicara tentang Kemahabesaran Allah (Jalal), Yang Mulia Yang Dahsyat, dan Kemahaindahan (Jamal), Yang Kecantikannya memesona.”. 

Memang, dalam tradisi Islam, Sifat Ilahiah dibagi menjadi dua kelompok yaitu Jalal (kemahabesaran, keagungan) dan Jamal (kemahaindahan, kecantikan) dan keduanya bersatu  di dalam-Nya sebagai sifat Kamal atau kesempurnaan. Keagungan itu adalah bersifat tegas dan keras, yang menyatukan sifat-sifat kemurkaan, kesombongan, kekerasan, dan sejenisnya. Sifat Keindahan di sisi lain adalah sintesis dari sifat belas kasihan, kedermawanan, rasa iba, dan sifat-sifat baik lainnya. Sifat Jalal adalah “aspek maskulin” dari Tuhan, Yang Menguasai – yang membuat manusia tunduk dan mematuhi hukum “Nya” – sedangkan sifat Jamal adalah aspek feminin, yang menawan – yang membuat manusia terpesona dan jatuh cinta pada “Nya”. Sifat Jalal dan Jamal (Maha Besar dan Maha Indah) ini adalah kualitas yang setara dengan nama-nama Tuhan” ‘Adl dan Fadhl (Adil dan Penuh Karunia), atau Ghadab dan Rahmah (Murka dan Maha Pengasih), atau Qahr dan Lutf (Maha Kuat dan Maha Lembut). 

Mengutip ungkapan seorang fenomenolog agama yang terkenal, yaitu van der Leeuw, Schimmel lebih lanjut mengungkapkan kesalahan umum yang telah dibuat oleh para cendekiawan dan orang awam yaitu mengelompokkan Islam ke dalam kelompok agama yang berorientasi nomos / aturan hukum. Sebenarnya, para sarjana seperti ini  agama secara alami cenderung mengelompokkan agama ini, bersama dengan Yahudi, bukan ke dalam agama yang berorientasi eros /kasih bersama dengan agama Kristen. Faktanya, semua agama, termasuk Yahudi, harus dipahami sebagai memiliki orientasi kasih-sayang, selama pemahaman kita tidak terbatas hanya pada aspek eksoterisnya saja. Dalam konteks yang disebutkan di atas, Islam – masih menurut Schimmel – pada dasarnya adalah agama rahmat, agama kasih-sayang – suatu sifat-kasih sayang tunggal yang serba meliputi, yang terwujud dalam cinta Tuhan kepada manusia, cinta manusia kepada Tuhan dan cinta manusia kepada umat manusia dan seluruh mahluk ciptaan-Nya. Memang, Cinta adalah basis yang universal, sekaligus tujuan agama Islam, seperti juga dalam semua agama yang benar-benar bersifat spiritual. Pemahaman tentang Islam seperti ini terutama disuarakan oleh para mistikus Islam – yakni kelompok sufi di segala zaman. Menurut Ibn ‘Arabi: “Tidak ada firman ilahi yang diriwayatkan dari Allah Yang Maha Tinggi, yang mengindikasikan Keagungan yang tidak disertai dengan hal-hal yang terkait dengan Keindahan untuk mengimbanginya. Begitulah hanya di semua kitab yang diwahyukan, sebagaimana di dalam segala sesuatu.”  

C. Allah Yang Maha Pemurah

Saat kita membuka Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa setiap Surat di dalam kitab ini dimulai dengan sebuah ayat yang menyatakan bahwa Allah Rahman dan Rahim (umumnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai The Most Beneficent dan The Most Merciful) – kecuali di dalam satu bab yang di dalamnya ayat ini menjadi bagian dari {di tengah) Surat. Tetapi, kata ‘rahmah” dalam bahasa Arab, yang darinya kedua kata ini diturunkan, memiliki konotasi yang sangat komprehensif, meliputi rasa cinta, belas kasih, berkah, dan banyak makna serumpun lainnya. Dalam prinsip Kasih sayang inilah, seluruh konsep keimanan Islam dan cara-hidupnya dirangkum. Dan bukannya tanpa makna yang mendalam bahwa seorang Muslim diajarkan untuk selalu melafalkan ayat yang sama – “Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang” – setiap kali mereka mulai suatu pekerjaan. Dalam bahasa Arab asli, ungkapan tersebut menggunakan kata “Allah”,dan bukannya menggunakan sembarang kata lain yang berkonotasi dengan Tuhan Kata “Allah” ini sebenarnya adalah nama-Nya yang  mencakup semua naman-Nya yang lain (al-Ism al-Jami’), atau nama-Nya Yang Teragung (al-Ism al-A’zham) sebagai sumber dari semua Nama-Nya. Dengan kata lain, terlepas dari kenyataan bahwa Nama-nama-Nya terdiri atas kelompok nama yang termasuk dalam Aspek Keagungan dan Keindahan-Nya, sebagai suatu keseluruhan konsep Allah dalam Islam mewakili sikap Belas Kasih dan Kebaikan, dan tidak ada lagi yang lain. 

(Catatan: kata-kata Rahman dan Rahim dibentuk dari akar kata r-h-m yang sama. Keduanya merupakan sifat belas kasih. Tetapi, sifat Rahim menandakan bentuk belas kasih yang spesifik, yaitu  belas-kasih Tuhan kepada hamba-Nya, sedangkan kata Rahman menandakan kasih sayang secara umum, yaitu. terhadap semua ciptaan, baik orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman) 

Sebenarnya, kasih sayang adalah prinsip inti sifat KeTuhanan. Dia sendiri menekankan di dalam Al Qur’an bahwa: “Sungguh Rabbku adalah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (11 :80).

Di bagian lain dalam Al Qur’an, Allah dikaitkan dengan sifat Wudd (sayang) dan Ghufran (pengampunan), dan pada saat yang sama: “Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta” (Al-Quran 85:14). 

Sedangkan sifat-Nya sebagai Rahim (penyayang) dan Wadud (sayang) disebutkan bersama dalam ayat ini: “Mintalah ampunan dari Tuhanmu dan kemudian kembali (bertaubatlah) kepada-Nya). Lihatlah Tuhanku, (Dia) Maha Penyayang, dan Pencinta. ” (11:90)

Lebih jauh dari itu, di dalam Hadis Qudsi (al-hadits al-qudsiy), Tuhan menyatakan dengan tegas bahwa “Rahmat-Ku mendominasi Murka-Ku”. Yang paling penting adalah, melalui Al-Qur’an Allah menjelaskan tentang diri-Nya melalui nama-nama yang termasuk dalam kelompok Sifat-sifat Indah yang Memesona (Jamal) dalam berbagai ayat yang jumlahnya sebanyak lima kali lebih banyak dari jumlah ayat di dalamnya Dia mengungkapkan diri-Nya. melalui Sifat-sifat Kedahsyatan-Nya (Jalal). Pada baris yang sama, Sifat-Nya Murka-Nya hanya muncul satu kali di dalam Kitab suci, sedangkan sifat yang sebaliknya – Maha Pengampun – muncul sekitar seratus kali. Sungguh, tidak ada makhluk ciptaan-Nya yang luput dari belas kasih-Nya: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (7: 156)

Ayat terakhir dengan jelas menyatakan bahwa segala sesuatu, bahkan termasuk juga hal-hal yang tampak sebagai keburukan dan penderitaan, sebenarnya adalah manifestasi dari sifat belas-kasih-Nya

Memang benar bahwa, sebagaimana dinyatakan oleh Ibn ‘Arabi dalam kutipan di atas, bahwa prinsip cinta dan belas-kasih Ilahi tidak akan menghilangkan fakta bahwa Dia juga memiliki sifat murka dan keadilan. Itu adalah coincidentia oppositorum, dua hal berlawanan yang ada secara bersamaan. Kemurkaan dan penerapan keadilan yang tegas tentu saja merupakan bagian dari tindakan-Nya. Namun, berdasarkan hadis, ayat Alquran, dan dominasi – dalam hal jumlah ayat — nama-nama indah dibandingkan nama-nama agung-Nya, kita dapat menyimpulkan bahwa sifat-sifat keagungan ini sebenarnya adalah manifestasi dari prinsip cinta dan kasih-sayang yang sama. Kasih dan belas kasih-Nya kepada manusia itu jugalah yang membuat-Nya menyelenggarakan keadilan dan menegakkan hukum. Yaitu, sebagai bagian dari Sifat Maha Memelihara (Rububiyah-Nya). Dalam analisis terakhir, bahkan Neraka diciptakan-Nya sebagai hasil dari manifestasi Kasih-sayang-Nya; yakni (neraka itu) bekerja di bawah prinsip yang sama dengan prinsip beroperasinya surga.. Kenyataan bahwa ada orang yang jiwanya sakit menjadikan sifat intrinsik neraka sebagai sumber kesenangan dan kenikmatan sedemikian rupa  mereka rasakan sebagai sumber penderitaan. Dalam konteks ini, hukuman di neraka harus dilihat sebagai manifestasi dari sifat Kasih-Nya, yaitu. sebagai tindakan “rehabilitasi”, suatu shiksa (pelajaran), demi memurnikan penghuninya dari kotoran yang ada dalam jiwa mereka. Faktanya, kata “nar” (api neraka) memiliki akar yang sama dengan kata “nur”, yang berarti cahaya (bimbingan). 

D. Kasih-sayang sebagai Motif Penciptaan

Tuhan telah menciptakan alam semesta sejak awalnya dengan dorongan kasih sayang-Nya. Menurut Hadis Qudsi yang terkenal: “Aku adalah Harta Karun Tersembunyi. Aku mendamba (kata aslinya, cinta) untuk dikenal sehingga Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal”. Dalam Hadis Qudsi lain yang serupa, Dia berfirman;

“Aku cinta dikenal sebagai Pengampun, Penutup Aib, Yang Paling Indah. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang sehingga Aku menciptakan ciptaan agar Aku dikenal.”

Beginilah cara Tuhan menjelaskan  penciptaan alam semesta. Cinta pada dasarnya adalah prinsip penciptaan, ab initio. Dan cinta inilah yang mendorong setiap makhluk di bumi untuk berupaya untuk (kembali) bersatu dengan Tuhan, dengan cara menjalani kehidupan yang baik, yang akan menghasilkan ridha-Nya. 

Memang, salah satu nama Allah, salah satu sifat-Nya, adalah Al-Wajid. Kata ini memiliki beberapa arti. Selain memiliki makna “cinta” yang intens dan eksistensial, kata itu juga berarti “mewujudkan” atau “menjadikan”. Merenungkan nama suci ini, kita dapat melihat bahwa ada hubungan yang sangat dekat antara cinta dan penciptaan, yang sejalan dengan Hadis Qudsi yang dikutip sebelumnya. Manusia bisa ada di sini karena Cinta-Nya, seluruh Alam Semesta ada di sini karena cinta-Nya. Inilah yang membuat Nabi bersabda dalam sebuah Hadis: “Tuhan itu Indah dan mencintai keindahan”, dan di waktu lain ia berseru: “Aku melihat Tuhanku dalam forma (gambaran) Yang paling indah!” Yang bersumber dari Tuhan yang Maha Pengasih, tidak ada yang lain kecuali kebaikan. Bahkan hal-hal yang tampaknya buruk pada kenyataannya berfungsi untuk mencapai kebaikan yang lebih besar, dengan demikian mewujudkan Kasih-Nya kepada alam semesta. Sekali lagi, murka-Nya (jelas) – merujuk pada Hadist-hadist Qudsi yang dikutip di atas – pada kenyataannya adalah wajah lain dari Rahmat-Nya.

E. Hubungan Cinta antara Manusia dengan Tuhan

Salah satu kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan cinta adalah kata wudd, yang dalam bahasa Arab berarti bentuk cinta tertinggi, dan disebutkan dalam Al Qur’an: 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta.” (19:96). Al-Wadud – pemberi wudd – adalah salah satu Nama Indah Allah yang berarti sumber cinta. Dia pun telah memberkahi manusia dengan kapasitas tak terbatas untuk mengembangkan cinta. Hubb adalah kata lain yang digunakan dalam Al-Qur’an yang juga berarti cinta, sebagaimana dinyatakan dalam: “… maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya” (5: 54).  

Dalam kitab-Suci-Nya, Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (51:56) 

Kata “beribadah” adalah terjemahan dari bahasa Arab “ya’budun”. Menurut salah satu ahli tafsir Kitab Suci. yang paling berwibawa di antara para sahabat Nabi, Ibnu Abbas, kata itu harus dipahami sebagai “untuk mengenal”. Nah, ketika kita menyandingkan ayat tersebut, yang dipahami dengan cara  seperti itu, dengan Hadis Qudsi yang dikutip sebelumnya, kita dapat menyimpulkan bahwa kata “menyembah” dalam ayat itu harus dipahami sebagai “untuk mencintai” . Kenyataannya, sebagaimana kata “worship” (menyembah) dalam bahasa Inggris memiliki makna yang sama dengan kata “to adore” (memuja) – kata “memuja” dalam bahasa Indonesia pun bisa dimaknai sebagai “mencinta” – kata “ya’budu” dalam bahasa Arab bisa dimaknai sebagai “mencinta”.

F. Nabi Kasih sayang

Dalam Hadis Nabi, cinta juga sering disebut sebagai fondasi kepribadian dan pengajaran Nabi Muhammad. “Kasih sayang adalah landasanku,” kata Nabi. Dalam hadis yang lain dikatakan bahwa “Agama (Islam) adalah Kasih sayang”.  Dalam Alquran, Allah akan menyebutkan bahwa sifat cinta dan kasih sayang kepada Tuhan dan kepada ciptaan sebagai sifat-karakter dari utusan-Nya ini. Dalam Al Qur’an, Allah berfirman tentang Nabi sebagai “seseorang yang lembut, tidak kasar dan keras hati” (3: 159), “sangat peduli terhadap orang-orang lain dan selalu mengharapkan bagi orang lain, dan kepada orang-orang beriman ia selalu santun dan penyayang ”(9: 138). Hal ini tentunya sepenuhnya erat kaitannya dengan peran dan misi yang Allah telah berikan kepadanya sebagai nabi, yakni menyebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta. Ini sejalan belak dengan apa yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar keduanya berbicara dengan lemah-lembut kepada Firaun sang tiran (20:24). Jika ada sesuatu yang dapat memberikan kesan ketegasan dalam kepribadian Nabi, maka hal itu harus dipahami persis seperti cara kita harus memahami murka Allah sebagaimana dijelaskan di atas. Sifat tegas/keras yang dikaitkan kepada Nabi harus diletakkan dalam konteks cinta a la Tuhan, suatu tindakan mendidik orang demi menyucikan diri mereka dari keburukan agar dapat menjadi baik dan mencapai kebahagiaan tertinggi di dunia ini dan setelahnya.

G. Menjadi religius berarti menjadi Welas Asih

Sayangnya, seperti yang dinyatakan dalam pengantar artikel pendek ini, pemahaman banyak di antara umat Islam, dan banyak juga pengamat luar, hanya terpaku pada aspek eksoterik atau legal-formal agama, yaitu aspek Kemahakuasaan Tuhan serta peran legal-formalistik Nabi. Yang perlu dilakukan oleh seorang Muslim adalah menyegarkan kembali pemahamannya tentang agama dengan selalu mengingat bahwa agama bukan hanya masalah hukum, melainkan pada dasarnya masalah memelihara rasa kasih sayang di dalam diri kita: kasih sayang terhadap segala sesuatu, terhadap semua anggota alam semesta ini tanpa pengecualian. Memang, umat Islam diajarkan untuk “menanamkan dalam dirimu sifat-sifat keTuhanan” (takhallaqu bi akhlaq Allah) ”. Tuhan, di atas segalanya, adalah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pemurah terhadap ciptaan-Nya. Karena itu, kita harus mencintai dan berbelas kasih kepada sesama mahluk ciptaanNya. Selain itu, umat Islam diajarkan untuk mengikuti teladan Nabi yang pencinta dan penuh welas asih, yang tentangnya Tuhan telah menyatakan sebagai “contoh terbaik” (33:21), karena faktanya dia “memang memiliki karakter yang luhur”. Dan Nabi ini, pada gilirannya, mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa kasih sayang Tuhan hanya dapat dicapai melalui sikap dan perbuatan kasih sayang kepada sesama manusia: “Jika kamu mencintai semua yang di bumi, kamu akan dicintai oleh Yang di langit.”  

Inilah makna sebenarnya dari agama Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin), yang harus dipahami dan dipeluk oleh para pengikut agama ini. 

Catatan akhir

Hal lain yang melintas di benak siapa pun yang membaca tulisan ini adalah timbulnya pertanyaan mengapa Islam dan Al-Qur’an membenarkan perang dan penggunaan cara-cara kekerasan. Bukankah itu dengan sendirinya merupakan pelanggaran terhadap orientasi Islam yang seharusnya penuh kasih sayang? Pertanyaan ini menyiratkan bahwa perang dan penggunaan kekerasan adalah identik dengan hal-hal yang buruk. Pada kenyataannya, manusia dapat menerima kondisi perang dan kekerasan – tentu saja yang sah – sebagai langkah yang perlu diambil dalam situasi tertentu. Kesemuanya itu dibenarkan hanya sebagai cara pertahanan terhadap penindasan dan pelanggaran hak-hak orang serta sebagai kekuatan untuk menghentikan kezaliman yang tidak bisa diselesaikan melalui cara damai. Inilah tepatnya alasan mengapa Islam bisa menerima kondisi perang dan penggunaan kekerasan. Terlebih lagi, dalam Islam, perang dan kekerasan adalah sah hanya dalam hal terjadi pelanggaran dan kezaliman terus berlangsung. Segera setelah tercapai perdamaian, alasan pembenaran itu sudah tidak ada lagi. Perang dan kekerasan, betapa pun sahnya, adalah pilihan terakhir. Yaitu, ketika semua cara damai telah dicoba dan tidak ada pilihan lain lagi. Dan segera setelah para penindas atau penindas, secara paksa atau sukarela, setuju untuk menyelesaikan konflik melalui cara damai, maka harus segera kembali ke prinsip cinta , belas-kasih, dan kedamaian. Inilah yang diajarkan dalam Al Qur’an:

“… kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan  keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai ia kembali kepada perintah Allah. Kalau ia telah kembali, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (49 :9)